Categories
Uncategorized

“The Elephant in The Room” dan Media Sosial Kita

Sebuah kalimat pembuka ketika melihat beranda Facebook. Sebuah ‘obrolan’ ilusif antar mesin dan manusia. Sebuah rancangan simulatif artificial intelligence pada algoritma sosial media. Semua demi satu tujuan, tercipta nuansa sosial di layar gadget kita. Masuk ke dunia yang riuh dengan obrolan berupa komentar dan like. Semu.

Bagai sebuah psyche katarsis manusia milenial, sosmed adalah ajang segalanya. Euforia yang dibuat dengan filter, momen tepat, sensasi, dan isu yang kadang begitu sensitif.

Pada media yang penuh dengan fidelity, banyak yang bersembunyi dibalik senyum palsu foto profil. Dengan bahasa dan konten kopas dari berbagai sumber, banyak dari melihat keramaian yang begitu hakiki di medsos.

Belum lagi di dunia instant messaging. Saya kira kaum milenial sudah tidak perlu lagi nada dering. Karena toh smartphone mereka akan selalu berbunyi. Entah itu pesan WA, like dari FB, heart dari IG, RT dari Twitter, chat group di WA/Telegram/BBM, dll.

Dulu, ada pesan masuk entah itu SMS biasa atau email akan begitu ditunggu dan didengar dengan baik. Berbeda dengan saat ini, cukup vibrate mode atau silent mode dan ditunggu 10-15 menit akan ada banyak notifikasi.

Benarkah dunia digital kita saat ini kita anggap ramai?

Bagai sebuah ilusi ‘the elephant in the room‘, kita tahu gajah itu ada. Tetapi entah mengapa gajah itu tidak ada. Ia ilusi belaka. Tapi begitu terserap kita dengan ilusi ini. Sesampai, kita hidup bersama gajah tersebut. Atau kita sendiri menjadi gajah itu?

Kesepian yang sejatinya banyak generasi milenial rasakan. Dengan gadget yang selalu terhubung, ada ilusi keramaian yang banal. Beberapa orang begitu terbawa dan hanyut dalam dunia sosial. Hingga muncul istilah social phobia (Bern, et.al: 2001), social anxiety (Chaplan: 2007) dan Facebook depression (O’Keefee & Pearson 2011). Gangguan psikis yang sepertinya mulai menggejala.

Apakah interaksi di dunia maya nyata? Mungkin banyak yang tidak setuju. Namun tetap saja, kita semua akan kembali ke dunia maya untuk segalanya. Mulai dari mencari tempat makan dengan foto-foto makanan yang ‘dilihat enak’. Sampai berkencan dengan seseorang yang foto profilnya ternyata bertolak belakang dengan wajah aslinya.

 

#Fakultas Psikologi Medan #Fakultas Teknik Medan #Fakultas Pertanian Medan #Fakultas Sain dan Teknologi Medan #Fakultas Hukum Medan #Fakultas Fisipol Medan #Fakultas Ekonomi Medan #Pascasarjana Medan #Sipil Terbaik #Elektro Terbaik #Mesin Terbaik #Arsitektur Terbaik #Industri Terbaik #Informatika Terbaik

Categories
Uncategorized

Mobil Seken, Mengapa Harga Tunai Lebih Mahal dari Kredit?

Pengalaman seharian pada Sabtu (5/6/2021) yang lalu menemani seorang teman mencari mobil bekas, telah menambah pengetahuan saya seputar jual beli mobil bekas, atau sering juga disebut mobil seken.

Kenapa sampai menghabiskan waktu seharian? Ya, karena teman saya ini ingin membandingkan mobil yang diincarnya di beberapa tempat penjualan mobil seken di Jakarta. Lagipula, ia sengaja mencari mobil dengan merek, tipe, dan tahun pembuatan tertentu, yang stoknya tidak banyak.

Ada 3 lokasi yang kami kunjungi. Pertama di sebuah jaringan penjualan mobil bekas yang sangat terkenal di Jakarta, dan showroom terbesarnya berada di Cilandak, Jakarta Selatan.

Sebetulnya, di sana teman saya sudah berminat dengan sebuah mobil seken yang spesifikasinya cocok dengan yang dicarinya. Hanya harganya yang jauh di atas taksiran teman saya.

Dalam hati saya berkata, perusahaan yang menjual mobil seken tersebut memang sudah terkenal reputasinya karena semua mobil yang dijualnya terawat dengan baik, tentu ada ongkos buat perawatan tersebut.

Setelah itu, kami bergerak ke sentra penjualan mobil seken di Kemayoran, Jakarta Pusat. Di lokasi yang tidak begitu jauh dari arena Pekan Raya Jakarta (PRJ) itu, ada banyak sekali kios pedagang mobil seken. Sayangnya, tak tersedia mobil dengan spesifikasi yang cocok dengan keinginan teman saya.

Kemudian, tak jauh dari Kemayoran, ada lagi sentra penjualan mobil bekas di Gedung WTC Mangga Dua, Jakarta Utara. Nah, di sinilah teman saya kesengsem dengan mobil yang spesifikasinya sesuai keinginannya.

Setelah mengecek kondisi mobil itu dan dijajal di lantai 12 WTC yang merupakan ruang terbuka yang relatif luas, teman saya mantap memutuskan untuk membeli.

Nah, masalahnya, teman saya minta pertimbangan saya apakah sebaiknya ia membayar secara tunai atau secara kredit. Jika membayar tunai, tak ada masalah, karena teman ini punya dana di rekening tabungannya di sebuah bank.

Hanya saja, ia bingung, kenapa jatuhnya lebih murah bila membayar secara kredit. Sebetulnya saya juga bingung, maka saya bertanya lebih rinci ke pedagangnya.

Jadi begini, jika membeli secara kredit, mobil itu dilepas si pedagang seharga Rp 152 juta. Tapi itu di luar bunga bank atau bunga dari perusahaan leasing yang memberikan kredit.

 

#Fakultas Psikologi Medan #Fakultas Teknik Medan #Fakultas Pertanian Medan #Fakultas Sain dan Teknologi Medan #Fakultas Hukum Medan #Fakultas Fisipol Medan #Fakultas Ekonomi Medan #Pascasarjana Medan #Sipil Terbaik #Elektro Terbaik #Mesin Terbaik #Arsitektur Terbaik #Industri Terbaik #Informatika Terbaik